Karena Hidup bukanlah Sinetron

Posted on July 23, 2012

8



Pagi ini di Surabaya, hari pertama masuk sekolah..

A: woii.. mlebu kelas opo kon? IPA opo IPS? (hai, masuk kelas apa dirimu? kelas IPA atau IPS?)
B: aku tah? *sambil mengangkat topi birunya* B-Boyz yo..

Didengarkan oleh sang sopir antar-jemput yang paling unyu sedunia #eh 😳


Beberapa waktu yang lalu, seorang teman mem-posting sebuah video theme song dari sinetron jadul favorit saya jaman SD dulu.. “Keluarga Cemara” menceritakan kisah keseharian keluarga si Ara (panggilan Cemara), anak seorang tukang becak, bersama kedua saudaranya Teteh Euis dan si kecil Agil.

Teringat pula sebuah film besutan sutradara Garin Nugroho di masa lalu, “Daun di Atas Bantal”. Yang bercerita tentang kerasnya kehidupan anak jalanan yang berjuang demi mendapatkan pendidikan yang layak, dan masa depan yang sedikit lebih manis..

Bandingkan saja dengan trend tayangan sinetron belakangan ini. Saya bingung, kenapa masyarakat masih saja setia menanti kelanjutan cerita tak masuk akal yang disajikan disana.. Seakan-akan masa muda cuman buat pacaran, ke sekolah/kuliah udah bergaya ngemall. Let’s get real, hidup yang kita jalanin ngga semudah itu kan? 😛

Bagaimana jadinya bangsa ini ketika media mempromosikan kehidupan glamor yang menipu.
Bagaimana wajah generasi di masa depan apabila saat mereka belia dijejali dengan nilai-nilai hedonisme yang semu.
Apabila media hanya berfungsi sebagai mesin pencetak uang belaka, maka lenyaplah nilai kehidupan yang luhur warisan nenek moyang bangsa ini..

PF: jangan tanyakan siapa sopir mobil anjem di postingan ini.. Si sopir tidak memiliki sebuah televisi pun di rumahnya *cari spot nobar gratisan yuk* :mrgreen:

Advertisements
Posted in: Opini