Semarang, kota Lunpia

Posted on February 1, 2012

7



Libur Imlekan kemaren, saya bersama pacar saya dan adiknya (calon adik ipar, red) menghabiskan 4 hari pelancongan ke kota Semarang, kota kelahiran ortu pacar saya (calon mertua, red) *kok jadi bahas silsilah gini yaw :mrgreen: #geje. Nah, kota Semarang paling terkenal dengan jajanan khasnya yaitu lunpia. Jajanan ini punya nama beken loh, yaitu spring roll. Tapi setahu saya, orang-orang lebih familiar dengan nama lumpia. Jadi, nama aselinya apa ya? *nah loh?!

Trivia
Kekhasan Lunpia Semarang terletak pada isiannya yang menggunakan rebung sebagai bahan utamanya, berbeda dari resep lumpia yang lain. Untuk menambah citarasa gurih, biasanya berbagai pilihan daging ditambahkan mulai dari telur, ayam, udang, hingga kepiting. Rebung ialah tunas muda yang tumbuh dari akar bambu *disadur dari wikipedia. Bahan makanan ini biasa digunakan untuk menu sayuran yang populer di kota Semarang dan sekitarnya. Apabila rebung yang digunakan kurang fresh dan salah mengolah, bisa menimbulkan bau yang tidak sedap serta berasa agak asam. Lunpia biasa disajikan dengan saus cocolan yang terbuat dari bahan dasar taoco dengan citarasa manis, asam, dan asin *nano-nano dong 😛 Tidak lupa spring onion (daun bawang, red) dan cabe rawit yang masi ijo-ijo sebagai pelengkap.

Di Semarang sendiri, terdapat 3 tempat yang terkenal menjajakan lunpia ini, yakni di Gang Lombok no 11, Lunpia Mataram di jalan MT Haryono, dan Lunpia Express di jalan Gajah Mada. Kali kemarin saya sempat nyobain yang di Gang Lombok dan Lunpia Express. Let’s cekidot.. 😉
Note: klik pada masing-masing gambar untuk menambahkan drooling effect tingkat maksimum :mrgreen:

Lunpia Express

Lunpia Express

ki: Crab Lunpia; ka: Original Lunpia

Resto yang terletak di jalan Gajah Mada ini adalah sebuah resto fast food yang menyajikan Lunpia sebagai menu utamanya. Ada 3 jenis lunpia yang ditawarkan, “Plain”, “Original”, dan “Crab”. Harganya masing-masing 6 ribu, 10 ribu, dan 15 ribu. Cukup mahal untuk ukuran jajanan berbahan dasar rebung :mrgreen: *yang setuju angkat tangan.
interior Lunpia Express

Interior Lunpia Express


Citarasa lunpia di sini gurih manis khas kuliner Jawa Tengah. Kulitnya cukup renyah, dan rebung yang jadi isiannya lembut dan tidak berasa asam serta tidak berbau. Untuk citarasanya cukup memuaskan, hanya saja saya merasa dagingnya kurang berasa (baca: kurang wuakeh). Untuk ukuran lunpianya sendiri cukup besar, jauh lebih besar dari lumpia yang biasa saya temui di Surabaya.

Selain potongan daging yang ngirit *banget, saus yang digunakan juga menurut saya agak hambar. Entah apakah ini adalah resep saus yang asli atau hasil modifikasi. Bentuknya sangat kental dan bening kecoklatan, serta rasanya manis asam. Singkat kata, saya agak sedikit kecewa dengan citarasa yang ditawarkan.. Imho, kurang cocok dengan lidah Suroboyoan macam saya 😛 Meski demikian, resto ini tidak pernah sepi pengunjung.. selalu ada saja orang-orang yang mampir dan memesan beberapa potong lunpia untuk take away.

Lunpia Gang Lombok

Gang Lombok

Depot Lunpia Gang Lombok

Konon, depot lunpia yang satu ini adalah depot lunpia tertua di Semarang. Agak-agak tricky untuk bisa mencapai depot yang “bersembunyi” di pinggiran kali di kawasan Pecinan yang mirip Kembang Jepun di Surabaya. Waktu kami berkunjung ke sana, pas jamnya lunch break. Alhasil, kami tidak bisa berlama-lama ngongkrong di sana.. Keburu diserobot pengunjung yang antri menunggu pesanannya diantar. 😕
lunpia gang lombok

Lunpia Gang Lombok


Lunpia yang dijual disini hanya ada 1 jenis saja, disajikan goreng atau basah (tidak digoreng, red). Citarasa lunpia dan sausnya kurang lebih sama dengan Lunpia Express karena konon, pemilik lunpia kedua “perguruan” ini yang sama. Bahkan pemilik lunpia disini masih termasuk garis keturunan dari pencipta resep Lunpia Semarang *ulasannya dapat dibaca di sini. Loenpia Gang Lombok memiliki penyajian yang unik, yakni tidak menggunakan daun bawang melainkan bawang putih yang dicincang kasar. Citarasa saus nya mirip dengan Lunpia Express, tetapi warnanya lebih kekuningan.
Dengan patokan harga 10 ribu rupiah per potongnya, I still think that this is a bit pricey 😛

Raja di kotanya sendiri
Yang saya temui di sini, citarasa lunpia di kota Semarang jauh berbeda dengan lumpia dari Surabaya. Tetapi bagi lidah Suroboyoan seperti saya, citarasanya kurang begitu bisa diterima.. Tanpa bermaksud mengunggulkan resep lunpia manapun, saya tetap berharap supaya pusaka kuliner yang satu ini akan terus berjaya dari generasi ke generasi 😀 *macem motivator aja

Advertisements
Posted in: Culinary